Senin, 01 Agustus 2016

Piringan Hitam Musik Indonesia Era 1920-an Sampai 1950-an Diselamatkan

Tags


JAKARTA, KOMPAS.com -- Badan Ekonomi Kreatif dan Irama Nusantara bekerja identik menciptakan acara kegiatan 78, yakni pengarsipan dan register bahan piringan hitam berbahan shellac (78 RPM) ke format digital.

Program itu berujud mengamankan karya musik daerah Air era 1920-an sampai 1950-an, kala musik ternama Indonesia tidak sedikit direkam dekat format piringan hitam.

David Tarigan, salah satu orang inisiator Irama Nusantara, mengemukakan bahwa piringan hitam berbahan shellac gampang pecah.

"Plat-plat (piringan hitam) asal era termuat guna menemukannya saja sulit, kian pada keadaan yg apik. Bahannya pun bukan vinil, (shellac) gampang sekali finis, jelas David dekat konferensi pers di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (1/6/2016).

Selain itu, dikhawatirkan, keadaan iklim Indonesia dan trick daya simpan yg keliru, dapat dgn serentak merusak piringan hitam tertera. sebab itulah, digitalisasi tercatat jadi prioritas dan mengejar-ngejar kepada dilakukan.

"Di sinilah urgensi guna melaksanakan usaha pengarsipan dan pelestariannya yg lebih tinggi di bandingkan koleksi musik teranyar. terkecuali itu, saya menyaksikan bahwa era tercantum sanggup dinamakan sbg bintik semenjak perseroan musik ternama di Indonesia," ucapnya.

Sebagai jalan mulai sejak, Irama Nusantara dengan Bekraf sudah mengawali pencatatan ke seluruhnya halte Radio Republik Indonesia (RRI).

Setelah itu, ribuan kopi fisik tercantum bakal dipindahkan ke format digital atau digitalisasi.

Sedikitnya 1.000 kopi fisik musik negeri Air permulaan era 1950-an sampai 1980-an yg telah didigitalkan ada untuk website jadi Irama Nusantara, iramanusantara.org.

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon